Senin, 17 Oktober 2011

Fan Fiction: Because Of You

Annyeong ^__^ akhirnya saya muncul kembali kali ini dengan FanFiction baru. Kekekeke~ sehubungan my Prince Lee DongHae ulang tahun tanggal 15 Oktober kemarin. Saya mempersembahkan FF ini. Semoga reader suka. Setelah 3 hari gak bisa ngenet akhirnya bisa posting juga huffff *lap keringet*
Warning : hati-hati dengan banyak typo betebaran^^. Jika anda muntah-muntah dan mules-mules setelah membaca FF ini, author tidak tanggung jawab. Wkkwkwk…
 Judul : Because of You
Cast : Lee Donghae, Kang Hye Won,
Other Cast : cari sendiri aja wkwkwk
Rating : PG 15 (kayaknya^^)
Length :Oneshoot
Genre : Romance
“Jika kau menjadikan seseorang menjadi tujuan hidupmu, kau akan melakukan semuanya demi dia tanpa tahu apa dia akan melihat semua pengorbananmu” –Hye Won
>>>>>>
Hye Won POV
Huh hari ini benar-benar melelahkan. Aku baru saja keluar dari ruang operasi. Yah hari ini banyak sekali korban kecelakaan lalu lintas. Bahkan tadi ada seorang pria yang menjadi korban tabrak lari, kondisinya sangat mengenaskan. Untung saja pria itu selamat. “ dr. Kang gomawo atas bantuannya tadi” dr Nam memanggilku. “ ne, sudah sepantasnya dokter, justru saya yang harusnya berterima kasih diizinkan membantu operasi itu” aku pun membungkukkan badan berterimakasih pada dr Nam. Yah aku hanyalah dokter magang di rumah sakit ini. Aku memang sudah lulus kuliah kedokteran tapi aku belum mendapat izin praktek. Biasanya dokter magang hanya diberikan kesempatan masuk ruang operasi saat sudah masuk tahun keduanya, sementara aku baru 6 bulan disini sudah dizinkan membantu operasi. Siapa yang tidak senang? Yah walaupun aku tidak membantu banyak di ruang operasi. Itu semua karena dosen yang merekomendasikanku ke rumah sakit ini kenal baik dengan dokter disini. Oiya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Kang Hye Won, umurku 22 tahun. Karena otakku yang lumayan pintar aku sudah menjadi dokter magang diusiaku yang masih muda ini hehe^^. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan tapi berhubung aku sudah capek, lain kali saja yah aku cerita kekeke~
Aku melirik arloji di tanganku. Huh masih 2 jam lagi jam jagaku selesai. Aku benar-benar merindukan kasur saat ini. Karena tidak ada lagi pasien akupun berjalan menuju kantin sekedar memesan kopi untuk menyegarkan pikiranku.
BUGGHH. Seorang pria menyenggol bahuku karena berlari terburu-buru. Kuperhatikan ia berlari menuju meja receptionist.
“suster, korban kecelakaan lalu lintas tadi sore, dia ada di kamar no berapa? Bagaimana keadaannya?”
DEG.
Aku merasa familiar dengan suara itu. Mungkinkah …dia…
>>>>>>>
Author Pov
DEG.
Hye Won merasa mengenal suara namja itu. Ia terus menatap punggung namja itu dan tak terasa kakinya terus melangkah menuju meja receptionist. Namja itu terlihat begitu khawatir dan terus bertanya pada suster, membuat suster gelagapan menjawab pertanyaan yang diajukan. Hye Won menghampiri meja suster dan bertanya.
“ ada yang perlu saya bantu tuan…..? Hye Won menggantungkan kalimatnya ingin menanyakan nama namja itu. Namja itu berbalik kearah Hye Won.
“ah, dr Kang, tuan ini menanyakan korban kecelakaan lalu lintas hari ini. Tapi saya bingung pasien mana yang dimaksud? Karena pasien korban kecelakaan lalu lintas hari ini ada 6 orang” suster Han menimpali.
“ah perkenalkan dok, saya Lee, Lee Donghae. Saya mencari klien saya pria berumur sekitar 25an, jadi korban tabrak lari sekitar jalan Gangnam?” Donghae berusaha memperjelas pertanyaannya.
“oh, pasien yang itu, dia ada di ruang 115. Mari saya antarkan keruangannya kebetulan pasien tersebut baru saja dipindahkan ke ruang pemulihan”. Hye Won mengantarkan Donghae ke ruangan pasien.
Sesampainya di sana Donghae memakai pakaian besuk. Ia masuk dan memandang nanar pasien itu. Hye Won ikut menemani masuk ke dalam.
“bagaimana keadaannya dok?”
“ tulang kaki dan tangannya retak, tapi untung saja organ dalamnya tidak mengalami luka serius. Pasien sudah melewati masa kristisnya”. Hye Won menoleh sekilas menatap Donghae, entah kenapa hatinya merasa membuncah seolah ada sesuatu yang ingin keluar. Hye won lalu berinisiatif keluar dari ruangan itu.
“kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya akan keluar duluan”
“oh, ne. gomawo dokter”
“ne cheonmaneyo, jika membutuhkan sesuatu panggil suster jaga saja. Annyeong”. Hye Won pun meninggalkan Donghae di ruangan itu yang masih betah melihat keadaan pasien.
>>>>>>>
Flashback.
“oppa, saranghaeyo” seorang gadis kecil menundukkan kepalanya sambil membelikan sebuah kado berpita biru pada seorang namja didepannya. Namja tersebut kaget mendengar pengakuan gadis kecil itu, namja itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan dengan ragu mengambil kado dari tangan gadis kecil itu lalu menjitak kepalanya.
“yah, appo” rengek gadis kecil itu sambil mengelus-ngelus kepalanya.
“yak, kau masih sepuluh tahun terlalu cepat mengatakan itu, aku akan menerima kadomu ini, tapi aku tidak mau menerima pernyataanmu barusan, hyeon”
Gadis yang dipanggil hyeon itu merenggut kesal “ wae oppa?”
“ckck… sudah kubilang kau masih terlalu cepat 10 tahun untuk mengatakannya. Aku tahu aku ini namja yang sangat tampan sampai anak kecil sepertimu bisa begitu mengagumiku hehe” namja narsis itu mulai memuji dirinya sendiri hingga gadis kecil disebelahnya mengerucutkan bibirnya.
“yah aku bukan anak kecil lagi oppa” teriaknya kesal tak terima
“ck… bukan anak kecil apa kalau kau masih memakai seragam itu” namja itu menunjuk seragam SD yang dipakai yeoja kecil itu.
“donghae oppa…” hyeon merajuk sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Melihat yeoja kesayangannya itu merajuk, donghae melembutkan tatapannya dan menyejajarkan kepalanya dengan yeoja kecil itu. Donghae memegang bahu hyeon dan menatapnya lembut.
“dengar yah hyeon sayang, kau harus tumbuh jadi gadis yang pintar dan menjadi dokter yang baik. Jika sudah baru kau katakan hal tadi, pasti aku akan menerima perasaanmu”
“jinja? Oppa tidak bohong?” hyeon membulatkan matanya senang mendengar perkataan donghae.
“ne, oppa janji. Karena itu kau harus rajin belajar yah biar jadi dokter yang hebat”. Donghae mengacak-ngacak rambut hyeon.
“ne, aku janji akan jadi dokter yang hebat untuk oppa biar oppa bangga padaku”. Hyeon tersenyum senang dan memeluk hyeon senang.
>>>>>>>

Author POV
Hye Won menyesap kopinya perlahan. Ia seakan mengingat masa lalunya dengan cinta pertamanya. Yak cinta pertamanya seorang Lee Donghae yang baru saja ia temui hari ini. Ia dan Donghae ada tetangga, Donghae sudah menemani dan menjaganya sejak ia kecil. Krena mereka berdua adalah anak tunggal maka keduanya menjadi dekat bagai oppa dan dongsaengnya. Tapi sejak Donghae masuk SMA, waktunya bersama Donghae berkurang. Apalagi setiap hari Hye Won selalu melihat Donghae membawa teman-temannya ke rumahnya, dan kebanyakan temannya yeoja. Hye Won tidak suka Donghae terlalu dekat dengan yeoja centil tersebut. Hye Won sering merecoki Donghae yang sedang belajar bersama teman-temannya. Tapi chingu nya itu seakan tidak keberatan karena Donghae memperkenalkan Hye Won sebagai dongsaengnya. Apalagi menurut mereka Hye Won yeoja kecil yang manis dan imut. Yah semua anak SMA menganggap pelajar SD seperti dirinya manis dan imut bukan? Yah beda umur Donghae dan Hye Won 4 tahun. Walaupun Hyw Won sudah kelas 6 SD, Donghae tetap menganggapnya anak kecil dibanding dirinya yang sudah kelas 1 SMA. Karena hal itulah yang membuat Hye Won memberanikan diri mengungkapkan perasaannya saat ulang tahun Donghae yang ke 16. Dan betapa senangnya Hye Won saat tahu kalau Donghae menerima kadonya dan bilang jika ia jadi dokter ia akan menerima perasaan Hyw Won. Sejak saat itu Hye Won giat belajar dan jarang lagi bermain bersama Donghae. Lulus SD Hye Won ikut orangtuanya pindah ke jepang karena appanya ditugaskan ke Jepang.
Saat pindah ke Jepang, Hye won tidak sempat bertemu Donghae karena ia sedang study tour perpisahan kelas 1. Yah waalu mereka terpisah jarak dan waktu, Hye Won masih menyimpan keyakinan yang besar akan janji Donghae padanya. ia terus belajar dengan tekun hingga menjadi juara umum disetiap sekolahnya. Walaupun otaknya lumayan pintar tapi ia benar-benar berusaha keras untuk lulus kuliah kedokteran hanya dalam waktu 3,5 tahun. Mengagumkan bukan. Semua itu ia lakukan untuk seorang Lee Donghae, cinta pertamanya. Saat kembali ke korea ia sangat ingin bertemu dengan Donghae tapi itu semua ia tahan demi semua tujuan ia akan datang pada Donghae saat dirinya sudah menjadi dokter yang sebenarnya. Yah Hye Won harus menuntaskan masa prakteknya selama 2 tahun untuk mendapat izin prakteknya. Barulah ia punya nyali untuk bertemu Donghae. Tapi tidak disangka-sangka justru Donghaelah yang datang kemari dan bertemu dengannya.
Hati Hye Won gembira bertemu dengan Donghae, setidaknya ia tahu namja itu hidup dengan baik. Ia juga mengobati rasa rindunya pada Donghae. Tapi kini pertanyaan baru kembali menghampirinya. Apakah Donghae masih mengingat dirinya? Karena sudah hampir 10 tahun mereka tidak bertemu. Hye Won masih bisa mengenali Donghae karena ia tidak banyak berubah sejak SMA, wajah dan suaranya masih sama. Tapi ia kecewa karena tadi Donghae tidak mengenalinya sebagai Hyeon. Apa ia sudah berubah sangat jauh? Apa Donghae masih ingat tentang janjinya dulu? Hah terlalu banyak pertanyaan dibenak Hye Won saat ini.
>>>>>>>>>
Donghae sering datang ke rumah sakit untuk menjenguk kliennya Cho Kyuhyun. *keke~ yeoboku numpang eksis*
Setiap kali berkunjung, Hae selalu menyempatkan berbincang dengan dr Kang untuk menanyakan perkembangan kliennya. Pekerjaan Hae yang seorang pengacara mengharuskan dia memastikan kliennya itu baik-baik saja. Karena kecelakaan yang lalu membuat siding kasus korupsi yang ditangani Hae ditunda. Kyuhyun adalah saksi kunci kasus tersebut. Hal tersebut membuat Hae melakukan pengawasan ekstra ketat terhadap kyuhyun takut kejadian yang lalu terulang kembali.
Sudah sebulan kyuhyun dirawat inap, karena kondisinya sudah membaik ia diperbolehkan pulang. Hye Won merasa sedih mendengarnya karena dengan begitu ia tidak akan bertemu dengan Hae lagi.
Hae dan Kyuhyun mendatangi para dokter dan suster untuk mengucapkan terima kasih.
“semuanya gomawo sudah merawat saya dengan baik selama di sini” kyuhyun membungkuk diikuti Hae. Hae lalu menghampiri Hye Won untuk mengucapkan terimakasih.
“dr Kang gomawo atas bantuannya selama ini”
“ne, cheonmaneyo. Jangan lupa kyuhyun~ssi masih harus kontrol tiap bulan ke Rumah Sakit” Hye Won mengingatkan Hae.
“tenang saja dok, kalau dokter yang mengobati secantik anda, saya jadi tidak rela meninggalkan rumah sakit ini” kyuhyun mulai menggoda Hye Won. Semua yang ada di ruangan dokter tertawa mendengarnya. Donghae langsung menjitak kepala Kyuhyun.
“yak, hyung appo” kyu meringis sambil mengelus kepalanya.
“ckck… baru juga sembuh kau sudah bikin ulah, ingat lusa kau ada sidang. Awas kalau kau mangkir lagi”. Hae mendelik kearah Kyuhyun. Hye Won tersenyum geli melihat tingkah 2 namja di depannya.
“yak hyung bilang saja kau cemburu ku menggoda dr Kang” kyuhyun langsung buru-buru ambil langkah seribu seeblum Hae melayangkan jitakan ke kepalanya lagi. Hae langsung pamit dan mengejar Kyu keluar rumah sakit.
Hye Won memandang punggung Hae dengan sendu.
“yah dr Kang, jangan menatap sedih seperti itu, kau kan bisa menelpon dan bertemu dengannya” suster Han menyenggol bahu Hye Won.
“ah, anni. Kalian bicara apa? Siapa yang sedih?” Hye Won berusaha menyangkal.
Semuanya tertawa melihat Hye Won salah tingkah.
“kami sering melihat dokter memandang pengacara Lee diam-diam” sekarang dr. Kim yang menimpali sambil memasang wajah jahil. Tak mau ambil pusing Hye Won langsung berlalu menuju kamar pasien yang harus ia periksa. Jika lama-lama di dalam bisa-bisa ia mati kutu.
>>>>>>>
Hye Won menggeliat, ia malas sekali bangun hari itu. Tapi kondisi apartemennya yang kosong melompong mau tidak mau mengharuskan dirinya untuk pergi ke market pagi itu. Bahan persediaan makanannya di kulkas sudah habis. Belum semua kebutuhannya juga sudah lama habis. Hye Won pun bergegas bangun dan mandi. Tak lama ia sudah berpakaian rapi dengan mantelnya. Yah cuaca di luar lumayan dingin untuknya. Ia pun langsung menyambar tasnya dan bergegas ke supermarket terdekat.
Hye Won memilih barang-barang yang terdapat di dalam list belanjanya. Sudah hampir semuanya ia masukkan ke dalam troly belanjanya. Yang tersisa hanya 4kotak susu coklat kesukaannya. Setelah mencari akhirnya Hye Won menemukan susu coklatnya di rak paling atas. Hye Won berjinjit berusaha meraih kotak tersebut. Hari ini ia memakai flat shoes sehingga agak sulit menjangkaunya. Terang saja dirak bawah semua kotak susunya sudah habis yang tersisa hanya di rak paling atas. Hye Won terus berjinjit hingga ia melihat sebuah tangan yang meraih kotak susu yang ingin ia ambil. Hye Won menoleh dan mendapati seorang namja menyodorkan kotak susu itu padanya.
“pengacara Lee”
“ah kau dokter kang. Lama tak bertemu. Ini yang kau cari kan?” Hye Won mengambil kotak susu yang disodorkan Donghae. Lalu dengan malu-malu Hye Won meminta Hae mengambilkan 3 kotak lagi. Donghaepun mengambilkannya dan menyerahkan pada Hye Won.
“gomawo”
“Cheonmaneyo, dr Kang. Tidak disangka berjumpa denganmu disini”.
“ah, panggil aku Hye Won saja jika bukan di rumah sakit. terlalu formal jika kau memanggilku dr Kang” Hye Won tersenyum malu.
“ne, Hye Won~ah. Bolehkah aku memanggilmu begitu?” Hae meminta persetujuan Hye Won.
“ne, silakan saja. Pengacara Lee”.
“haha… kau pun jangan memanggilku pengacara Lee juga. Terlalu formal. Panggil aku Donghae atau oppa. Kau lebih muda dariku kan?” Hae menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan rasa gugupnya.
“ne,oppa” Hye Won tersenyum manis sekali membuat seorang Donghae terpana melihatnya. (kekeke~ lebay^^)
“ah iya, sedang apa oppa disini?”
“eh? Itu aku…..” Donghae memperlihatkan list belanja di tangannya. Hye Won tersenyum melihatnya.
“kau disuruh eomma mu belanja?” Donghae hanya mengangguk pelan.
“mau kubantu mencarinya?” Hye won bertanya sambil matanya menunjuk list belanja di tangan Donghae.
“heh?apa tidak merepotkanmu?”
“anniya. Aku sudah selesai belanja. Jadi tidak masalah jika membantumu. Sepertinya kau juga baru pertama kali belanja di supermarket kan?”
Dengan malu.malu Hae mengangguk dan matanya menatap berbinar-binar kearah Hye Won. Hye Won melihatnya jadi tertawa.
“”apa terlihat sekali yah? Aku tidak pernah belanja?” hae menggaruk tenguknya dengan wajah malu.
“haha.. anni hanya saja aneh melihtmu mau belanja tapi tidak membawa keranjang atau troly belanja”.
Donghae langsung menepuk jidatnya “ ah, aku lupa, hehe”.
Hye Won pun membantu Donghae mencari dan memilih barang-barang yang terdapat di list belanja Donghae.
Saat di kasir, Donghae bersikeras ingin membayar belanjaan Hye Won tapi Hye Won menolak dan bilang Donghae akan langsung bangkrut jika membayarinya. Donghae akhirnya menyerah dan membiarkan Hye Won membayar sendiri. Sebagai rasa terima kasih karena Hye Won membantunya berbelanja, Donghae bersikeras mengajak Hye Won makan siang. Hye Won mau tak mau menerima ajakan Hae.
>>>>>>>
Sambil menunggu makanan datang, Hae dan Hye Won berbincang-bincang.
“kemarin aku ke RS Seoul tidak melihatmu”
“oh, kemarin aku tidak ada jadwal praktek jadi tidak berangkat ke RS”.
“padahal aku ingin sekali melihatmu” Donghae bergumam kecil.
“mwo? Maksudmu?” Hye Won kaget agak tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Hae salah tingkah Karena ia keceplosan, untung saja pelayan datang menyajikan makanan yang mereka pesan.
“ah, makanan sudah datang. Ayo lekas kau makan. Pasti cacing diperutmu sudah sangat kelaparan”. Donghae berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena Hye Won memang sudah lapar ia langsung sibuk berkutat dengan makanan. Melihat hal itu membuat Donghae bernafas lega. “ hampir saja” gumam Hae dalam hati.
Seusai makan Donghae mengantarkan Hye Won sampai pintu apartemennya.
“gomawo sudah mengantarkanku pulang” Hye Won membungkuk mengucapkan terima kasih.
“ne, sudah seharusnya kau kan tadi sudah membantuku. Wah rumahmu pasti sejuk yah, apa aku boleh melihat-lihat sebentar?”
“mwo?” Hye Won kaget mendengarnya.
“haha… apa kau tidak mau mempersilakanku mampir sebentar”. Donghae menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hye Won menelan ludahnya dan matanya beputar cepat. Ia melirik sebentar kearah pintu kamarnya. Ia ingin mengajak Donghae mampir tapi ia tidak bisa karena begitu banyak kenangannya bersama Donghae waktu kecil tersebar rapi di seluruh ruangan apartemennya.Hye Won lalu tersenyum kikuk dan berusaha mencari alasan menolaknya tanpa menyinggung Donghae.
“ah iya, aku ingin mengajakmu mampir tapi mianhe. Aku tinggal sendiri di sini. Lagipula tak baik seorang namja yang tidak dikenal masuk kamar seorang yeoja. Mianhe. Sekali lagi mianhe”. Hye Won menundukkan kepalanya.
“gwenchana!aku yang seharusnya minta maaf sudah lancang. Mianhe. Aku pulang dulu”. Terdengar nada kecewa dari mulut Donghae. Donghae pun pamit pergi. Hye Won tetap terpaku memandang punggung Donghae yang menghilang dibalik tikungan. Hye Won merasa menyesal sudah membuat Donghae tidak enak. Tapi ia melakukannya karena belum siap mengungkapkan siapa dirinya.
>>>>>>>
Donghae berjalan lesu menuju lift. Betapa sakit hatinya saat tahu sampai saat ini ia masih dianggap namja asing oleh Kang Hye Won. Gadis yang sudah sebulan lebih mengisi hari-harinya. Ternyata semua usahanya sia-sia mendekati yeoja manis itu. Saat masuk lift, tiba-tiba Donghae teringat sesuatu, ia belum tahu nomor Hp yeoja itu, setidaknya ia masih harus berusaha dengan keras lagi. Donghae segera berlari keluar dan menuju kamar Hye Won. Dilihatnya Hye Won hampir masuk jadi ia segera memanggil nama yeoja manis itu. (jyahhh author narsis^^)
“Hye Won~ah” masih dengan nafas terengah-engah karena berlari.
Hye Won menoleh dan kaget mendapati Donghae sudah berdiri di depannya dengan nafas terengah-engah padahal baru saja namja itu pamit pulang dan menghilang dari hadapannya.
“Donghae Oppa, kau kenapa?” Hye Won menunjukkan sejuta pertanyaan di benaknya takut namja ini tetap meminta masuk ke rumahnya.
“boleh kupinjam Hpmu”
“mwo?” Hye Won bingung tapi tetap mengambil Hpnya dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Donghae. Donghae meraih Hp tersebut dan mengetikan sebuah nomor. Ternyata Donghae memanggil no ponselnya sendiri. Setelah itu menyimpan nomornya di Hp Hye Won. Setelah itu mengembalikan hp Hye Won.
“aku sudah menyimpan nomormu di hpmu. Kalau aku perlu teman belanja lagi, kau mau kan menemaniku lagi?” donghae bertanya penuh harap.
“ah itu, tentu saja, hubungi saja aku”. Hye Won tersenyum.
“baiklah kali ini aku benar-benar akan pergi. Annyeong” Donghae mengedipkan matanya membuat Hye Won tertawa melihatnya. Hye Won hanya bisa geelng-geleng kepala melihat tingkah Donghae dan segera masuk ke dalam apartemennya. Sementara itu masih terus tersenyum sambil memandangi ponselnya. Hatinya berbunga-bunga, setidaknya masih ada harapan baginya.
>>>>>>>
Sejak hari itu Donghae selalu mengirimi Hye Won sebuah sms setiap pagi untuk menyemangatinya. Hal itu tentu saja mengundang senyum Hye Won membacanya. Tak jarang Donghae juga melancarkan aksi gombalnya pada Hye Won. Mereka pun sering janjian makan bersama atau pun jalan dan berbelanja bersama. Sampai suatu ketika saat mereka berjanji untuk makan siang bersama.
Hye Won yang sedang menunggu Donghae dikejutkan kedatangan namja itu yang membawa sebuket bunga. Hye Won tersenyum menerima bunga tersebut. Lalu ia kaget melihat Donghae malah berlutut dan tersenyum menggoda kearahnya. Apalagi saat ia mendengar kata keramat keluar dari mulut seorang Lee Donghae.
“saranghae Hyw Won~ah” Donghae berusaha mengeluarkan senyuman mautnya yang bisa membuat ribuan yeoja bertekuk lutut di hadapannya. Tapi tidak bagi Hye won, ia bukannya senang mendengarnya tetapi hatinya merasa sakit. merasa semua yang ia lakukan sia-sia. Hye Won hanya menatap sinis kearah Donghae.
“apa kau benar-benar terobsesi punya yeojachingu seorang dokter? “
“mwo” donghae kaget tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu.
“mianhe aku harus pergi, ada urusan di RS”. Donghae berusaha menghalangi Hye Won tapi Hye Won tidak mengubrisnya. Hye Won berlari sambil menahan tangis, hatinya sakit ternyata orang yang selama ini ia cintai melupakan janjinya dan berbohong padanya.
Flashback.
“dengar yah hyeon sayang, kau harus tumbuh jadi gadis yang pintar dan menjadi dokter yang baik. Jika sudah baru kau katakan hal tadi, pasti aku akan menerima perasaanmu”
“jinja? Oppa tidak bohong?” hyeon membulatkan matanya senang mendengar perkataan donghae.
“ne, oppa janji. Karena itu kau harus rajin belajar yah biar jadi dokter yang hebat”. Donghae mengacak-ngacak rambut hyeon.
“ne, aku janji akan jadi dokter yang hebat untuk oppa biar oppa bangga padaku”. Hyeon tersenyum senang dan memeluk hyeon senang.
Hyeon melepaskan pelukan Donghae dan menatap Donghae tajam.
“tapi oppa tidak boleh jatuh cinta pada yeoja lain sebelum aku jadi dokter. Walaupun yeoja itu dokter juga, Arra?”
“arraseo. Oppa akan menunggumu hyeonku yang manis”.
“janji” hyeon menjulurkan kelinkingnya dan disambut Donghae dengan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Hyeon.
>>>>>>>
Setelah kejadian itu Hye Won tidak pernah lagi membalas sms ataupun menerima telpon dari Donghae. Ia amsih marah.
Hal itu tentu saja membuat Donghae frustasi.
“aaarrrggghhhhh” Donghae mengacak rambutnya kesal karena Hye Won tidak mengangkat telponnya dan sekaarng Hp nya malah tidak aktif. Kyuhyun yang sedang mampir ke kantor Donghae Cuma bisa melihatnya kasian.
“kenapa lagi hyung? “
“Hye Won~ah Kyu. Dia tidak mengangkat telponku. Smsku juga tidak pernah dibalas. Dia menghindariku Kyu. Aku tidak tahu apa salahku?”
“ckck… mana Lee Donghae si Princess Charming yang selalu menebar pesona ke setiap yeoja yang punya tingkat kenarsisan tingkat tinggi melebihi dewa hah? Mana Donghae yang selalu tidak patah semangat dalam mengejar sesuatu?”
“entahlah Kyu aku bingung, aku merasa jahat padanya. apalagi saat terakhir dia bertanya apa aku terobsesi punya Yeojachingu seorang dokter. Yah walau kuakui itu ada benarnya. Sewaktu kuliahpun yeojachinguku mahasiswi kedokteran. Ckck… itu sudah jadi obsesiku dari kecil Kyu. Tapi rasaku padanya bukan Cuma karena itu. Tapi karena aku nyaman berada disisinya. Kalau aku memang mengincar seorang dokter sudah lama aku memacari teman-teman dokterku Kyu”.
“ ya sudah sekarang kau jangan menyerah Hyung. Dia hanya salah paham padamu. Dia pikir kau tidak tulus padanya. yah kau dekati dia lagi, kirimi dia bunga. Biasanya yeoja akan luluh dengan bunga” Kyuhyun memberi nasihat tapi pandangannya tetap menatap layar PSP yang sedari tadi ia mainkan.
“kau benar Kyu. Aku tidak akan menyerah apalagi usahaku sudah sejauh ini. Entah kenapa aku menduga ia pun punya perasaan yang sama denganku”. Donghae pun bergegas keluar kantor.
“hyung kau mau kemana?”
“membeli bunga sesuai saranmu”. Teriak Donghae dari luar. Kyu hanya bisa mendengus kesal ditinggal sendiri tapi ia tak ambil pusing selama ia masih bisa kencan dengan PSPnya.
>>>>>>
Hye Won POV
“dr Kang. Ini ada kiriman bunga lagi untukmu” suster Han memberiku sebuket bunga mawar. Ckck… sudah hampir seminggu Donghae oppa mengirimiku bunga. Cih jangan kira aku luluh oleh namja pembohong itu. Mudah sekali ia mengingkari janjinya dan memberikan hatinya pada seorang dokter. Yah walaupun yeoja itu adalah aku juga tapi tetap saja, ia tidak mengingat janjinya.
“omooo, romantic sekali pengacara Lee itu. Sudahlah dr. Kang terima saja cintanya. Kulihat kau juga ada hati padanya” dr Kim membuyarkan lamunanku.
“apa kau masih menunggu namja cinta monyetmu itu Hye won~ah?” dr Kim yang memang sunbaeku di Kampus telah mengetahui semua rahasiaku. Aku hanya diam sambil memandang nanar buket bunga mawar ini. Mawarnya sangat cantik merah merona.
“kalau aku jadi kau, aku akan melupakan kenangan masa kecilku itu. Toh belum tentu dia akan mengingatku juga. Apalagi di depan mata ada namja sempurna yang menawarkan cintanya padamu, Hye Won~ah”.
“kau benar, dia bahkan mungkin lupa pernah mengenalku”. Jawabku lirih. Melihat wajahku yang agak sendu, dr Kim membiarkanku sendiri dan menyuruh para suster jangan menggodaku lagi. Yah aku memang butuh ketenangan saat ini. Ketenangan untuk menenangkan hatiku.
>>>>>>
Aku menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Yah pagi ini aku menyibukkan diri agar tidak teringat pesan dari Donghae oppa yang mengajakku pergi ke LotteWorld. aku sudah membalas smsnya dan bilang tidak mau pergi dengannya. ia tetap bilang akan menungguku di bawah. Cih keras kepala sekali sih dia. Lihat saja sampai sejauh mana ia akan sabar menungguku. Paling juga nanti dia akan pergi setelah lelah menunggu. Tapi kenapa hatiku tidak tenang yah? Ckck… merepotkan saja. Aku pun bangun dan lekas mandi. Selesai rapi berpakaian aku pun duduk di tepi ranjang dan membuka kembali sms darinya. Ia bilang akan menungguku jam 9. Lalu kulirik jam dindingku sudah menunjukkan pukul 11.00.
Aku hanya memeriksa sebentar, paling juga ia sudah pulang. Akupun bergegas keluar tanpa membawa tasku. Aku keluar gedung dan kaget melihatnya masih menunggu.
“paboya. Kenapa kau tidak pulang?kan sudah kubilang aku tidak mau pergi. Hari ini aku malas berjalan-jalan”.
Donghae oppa hanya tersenyum lebar membuatku merasa bersalah.
“aku yakin kau pasti akan datang. Kau kan yeoja berhati lembut”.
Cih percaya diri sekali dia. Aku pun langsung akan berbalik kembali ke apartemen. “karena kau sudah terlanjur datang. Khajja!”. namun Donghae oppa menarik tanganku paksa dan membawaku masuk ke mobilnya.
>>>>>>>

Author POV
Hye Won terus menatap kearah Donghae yang sedang focus menyetir. Sementara namja yang dipandangnya hanya memasang wajah tanpa dosa sambil senyum-senyum geje.
“yak! Jangan terus memandangiku. Aku tahu aku sangat tampan tapi bisakah kau jangan terlalu terpesona dengan wajah tampanku ini”. Donghae memasang evil smirknya kearah Hye Won. Mendengar kenarsisan Donghae yang sudah akut membuat Hye Won mencibir kesal dan memalingkan wajahnya kearah jendela.
Kesal sebenarnya Hye Won menanggapi namja disampingnya yang suka sekali melakukan sesuatu sesukanya. Ia bahkan tadi tidak memakai mantelnya dan lupa membawa dompet tapi Donghae terus menariknya masuk ke mobil dan melajukan mobilnya ke tempat yang sama sekali tidak ia ketahui. Yah walaupun ia hampir sedikit terpesona dengan penampilan casual Donghae. Hari ini Donghae terlihat tampan dengan kemeja biru dibalik jaketnya.
“ayo, turun! Sebelum pergi kita makan siang dulu. Aku tak mau dokter kesayanganku ini sakit”. entah sejak kapan donghae sudah memarkirkan mobilnya di sebuah restoran dan membukakan pintu mobil untuk Hye Won yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri. Karena Hye won masih terlihat bingung, donghae langsung menarik tangan Hye won lagi dan membawanya duduk di salah satu kursi restoran. Donghae juga langsung memesankan Hye makanan, yah sebulan sering bertemu makan bersama membuat Donghae tahu makanan kesukaan Hye Won.
Seusai makan siang, Donghae mengajak Hye Won ke lotte world. Disana mereka berdua bersenang-senang menghabiskan waktu berdua.
Tak terasa waktu telah berganti malam dan keduanya berjalan menyusuri sungai Han di petang hari untuk melihat matahari tenggelam..
Hye Won terus menggosok-gosokkan tangannya untuk menghilangkan udara dingin yang mulai menyergap. Bagaimana tidak, ia tadi keluar apartemen hanya memakai dress selututnya tanpa mantel sementara cuaca saat itu dingin. Melihat Hye won tanpa kedinginan, Donghae melepas jaketnya dan memasangkan syal di leher Hye Won. Hye Won terkejut dengan perlakuan Donghae yang tiba-tiba.
“kau bisa mati kedinginan dengan pakaian seperti itu”
“cih … gara-gara siapa aku seperti ini? Siapa tadi yang langsung menarikku pergi” Hye Won mendengus kesal. Sekarang ia lihat Donghae yang meniup-niup tangannya. Melihatnya seperti itu membuat Hye won jadi tak tega dan melepaskan syalnya dan memberikannya pada Donghae.
“ini pakai saja” Donghae melirik Hye Won dan memandang syal yang disodorkannya. Donghae menolak.
“tidak kau saja yang pakai. Aku ini pria, aku lebih kuat darimu”.
Hye Won kesal dan langsung menarik tangan Donghae dan menaruh syalnya ditangan Hae. Mau tidak mau Donghae menerima syal itu dan memakainya.
Keduanya lalu duduk di tepi sungai Han. Donghae diam-diam menggenggam tangan Hye won.
“begini sudah tidak dingin lagi”. Hae tersenyum sambil tetap menatap matahari terbenam.
Hye Won menoleh sebentar melihat wajah Donghae yang tersenyum dan melirik tangannya. Karena perbuatan baik yang dilakukan Donghae hari ini, Hye Won merasa akan membiarkan Donghae menggenggam tangannya. Keduanya menikmati pemandangan senja yang menyenangkan.
Setelah puas melihat matahari terbit, Donghae mengantarkan Hye Won pulang ke apartemennya. Sebenarnya Donghae ingin mengajak Hye won makan dulu sebelum pulang. Tapi Hye Won mengatakan ia sudah sangat lelah hari itu dan ingin segera pulang.
>>>>>>>
Seminggu sejak mereka jalan-jalan, Hye Won jarang lagi bertemu Donghae karena Hae sibuk dengan kasus barunya. Sementara Hye Won sibuk dengan jadwalnya di RS. Hingga suatu pagi, Hye Won mendapat telpon dari eommanya bahwa eomma dan appa nya akan tiba di Seoul siang ini. Mereka meminta Hye won bertemu di restoran untuk makan malam bersama sekaligus membicarakan masa depannya. Yah eommanya baru saja memberitahukan kalau dirinya akan dijodohkan dengan anak sahabat appanya. Ternyata rencana itu sudah pernah dibicarakan serius antar 2 keluarga dan ia sama sekali tak tahu.
“yak! Eomma aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menentukan sendiri pasangan hidupku kelak”.
“Hyeon~ah, kau lihat dulu dia. Kau pasti tidak akan menolak, calon suamimu itu orang yang sangat kau kenal”.
“eomma….” Hye Won merajuk.
“baiklah kau lihat dulu seperti apa dia? Sore ini eomma dan appa akan tiba di seoul. Malamnya jangan lupa dandan yang cantik dan temui calonmu itu. Kau akan menyesal jika tidak mau menemuinya. Dia adalah orang yang special bagi dirimu. Bahkan eomma tahu kau pasti menyukainya. Kau bahkan menjadi dokter demi dia… haha… yah sudah eomma masih ada urusan. Nanti eomma telpon lagi. Saranghe Hyeon~ah”.
“mwo? Oh ne, nado saranghe eomma”. Hye Won menutup telponnya. Sekarang pikirannya kalut. Kata-kata eommanya amsih terngiang-ngiang di benaknya. “Dia adalah orang yang special bagi dirimu. Kau bahkan menjadi dokter demi dia…”
Hye Won tahu kalau eomma tahu dengan jelas kalau ia selama ini sangat menyukai Donghae oppa, apa mungkin namja yang dijodohkan dengan dirinya itu Donghae oppa? Yah Hye Won yakin akan hal itu apalagi setelah eommanya bilang ia menjadi dokter demi namja itu. Orangtuanya tahu kalau ia jadi dokter Karena seorang Lee Donghae. Tapi sekarang dia ragu… ragu akan sesuatu.
>>>>>>>
Dikediaman keluarga Lee.
“mwo? Appa aku sudah dewasa. Masa mencari isteri saja harus kalian yang mengatur?”
“kau kenal dengannya, dia yeoja yang baik. Dia putridari sahabat appa”. Appa Donghae berusaha menasehati putranya yang uring-uringan mendengar perjodohan yang tiba-tiba itu.
“iya Hae kau kenal dengan yeoja itu. Dia teman mainmu dari kecil. Tetangga kita dulu”. Eomma Donghae menengahi perdebatan ayah dan anak itu.
“nuguya? Tetangga kita? Teman masa kecilku?” donghae masih belum punya bayangan siapa yeoja itu.
“Hyeon. Tetangga depan kita. 10 tahun yang lalu mereka pindah ke Jepang. Tapi katanya appa Hyeon itu akan ditugaskan kembali ke Seoul. Kau tahu Hyeon tumbuh menjadi yeoja yang cantik. Bahkan kata eommanya ia sudah menjadi calon dokter” eomma Donghae berbinar-binar membicarakan Hyeon.
Tapi tidak bagi Donghae, mendengar nama Hyeon memunculkan sejuta rasa sakit di hatinya. Kenangan masa lalu kembali muncul keluar. Sanggupkah ia bertemu yeoja yang sudah ia anggap Dongsaengnya itu. Yah selama ini perasaan Donghae pada yeoja itu adalah perasaan seorang oppa pada Dongsaengnya. Sebenarnya ia tidak tega apalagi sampai menyakiti hati dongsaengnya itu. Kini ia lemas untuk berpikir lagi dan memutuskan masuk ke dalam kamarnya untuk berpikir jernih. Kedua orangtua Donghae yang pergi ke kamar hanya menatap aneh ekspresi anaknya itu. Tapi eomma Donghae berpikir Hae terlalu senang bertemu dengn teman masa kecilnya itu sehingga sedikit gugup.
>>>>>>>
Donghae terus mendang langit-langit kamarnya sambil berpikir bagaimana ia harus bersikap nanti saat bertemu dengan Hyeon. Ia bahkan berpikir apa Hyeon masih mengingat bualannya 10 tahun yang lalu. Yah saat yeoja kecil itu mengutarakan perasaannya. Donghae tidak tega mengatakan perasaannya pada Hyeon hanya sebagai oppa bukan seorang namja terhadap yeoja. Saat itu ia hanya ingin menghibur yeoja kecil itu. Tak disangka karena ucapannya itu Hyeon malah semakin rajin belajar.
“apa ia akan menagih janjiku saat itu? Arrrrggghhhhh” gumam Donghae mengacak rambutnya frustasi.
“tidak mungkin. Kejadiannya sudah sangat lama. Ia pasti tidak akan ingat. Tapi bagaimana jika ia ingat? Tapi perasaanku padanya hanya sebatas perasaan sayang oppa terhadap dongsaengnya. Sampai saat ini juga. Hah… kenapa aku jadi merasa bersalah padanya yah?” donghae lalu bangkit dan duduk di tepi ranjangnya dan meyakinkan dirinya kalau saat ini ia punya seseorang yang ia sukai. Yah saat ini ia sedang menyukai anni mencintai yeoja lain bernama Hye Won. Donghae lalu bangkit dan keluar kamar menemui orangtuanya.
“eomma…..” donghae memeluk eommanya dengan manja sikap yang selalu dilakukannya jika ia ingin sesuatu.
“yak… Hae kau itu sudah besar. Tidak pantas lagi namja seperti bermanja-manja dengan eomma”. Eomma Donghae menjitak kepala anaknya membuat Donghae melepas pelukannya dan berganti mengelus kepalanya.
“aku…aku menyukai yeoja lain”. Donghae berusaha mengutarakan isi hatinya. Eomma dan appanya terkejut tapi langsung tersenyum kembali. keduanya menatap lembut Hae. Appa Donghae menepuk bahu Donghae dan bilang “ kau lihat dulu yeoja itu, kalau kau tetap tidak bisa menyukainya apa boleh buat. Yang terpenting adalah kebahagianmu nak”.
Mendengar perkataan appanya membuat Donghae tenang dan mantap menghadiri makan malam keluarga itu.
>>>>>>>
Sudah 1 jam kedua keluarga Lee dan Kang berbincang-bincang. Ny dan tuan Kang sibuk memuji Donghae yang merupakan namja tampan dan sukses. Mereka juga menceritakan kehidupan anak gadisnya Hyeon yang telah lulus kuliah kedokteran. Hal itu membuat Donghae tidak enak karena ia melihat tuan dan Ny Kang sangat menyukainya menjadi menantu keluarga Kang. Ny Kang terus mencoba menghubungi Hyeon yang tak kunjung datang. Ternyata hyeon masih dalam perjalanan karena terjebak macet.
“oh maafkan putriku sepertinya sangat telat tapi tadi ia bilang ia sebentar lagi tiba” eomma Hyeon meminta maaf. Donghae dan keluarganya hanya mengangguk tak mempermasalahkan hal itu.
Saat sedang asyik berbincang-bincang datang seorang yeoja muda yang terengah-engah sepertinya ia habis berlari.
“annyeonghaseyo. Mainhe saya datang terlambat”. Hye Won segera membungkuk memberi hormat pada kedua orangtua Donghae.
Donghae yang mendengar suara seorang yeoja dan menoleh kearahnya. Alangkah terkejut ia melihat Hye Won yang datang. Apalagi saat eommanya menyambutnya dan memanggil Hyeon kearahnya. Yak… ia merasa dipermainkan takdir. Yeoja yang akan ia tolak hari ini adalah yeoja yang setengah mati ia kejar 3 bulan belakangan ini.
Hye Won melihat sekilas kearah Donghae yang terlihat sekali terkejut. Hye Won langsung menolehkan wajahnya dan tersenyum kearah eommanya Donghae.
Selama acara makan malam, Donghae tak banyak bicara pikirannya kalut dan bercabang. Hye Won tampak asyik berbincang-bincang dengan kedua orangtua Donghae. Donghae hanya bicara singkat saat ditanya.
Setelah makan, eomma Donghae menyuruhnya mengantar Hye Won ke apartemennya karena Hye Won menolak menginap di rumahnya dengan alasan jarak RS dengan apartemennya lebih dekat dibanding rumah eommanya.
>>>>>>>
Selama perjalanan keduanya terdiam. Sampai di depan apartemen Hye Won pun Donghae tidak menucapkan sepatah katapun. Hye Won juga malas mengajaknya bicara lebih dulu dan memilih lekas keluar dari mobil Donghe.
“kau pasti menertawakanku” Donghae berkata sarkatis membuat Hye Won yang hendak membuka pintu menoleh dan menatapnya.
“bukannya kau yang harusnya tertawa. Menertawai kebodohanku yang terlalu polos percaya pada semua yang kau ucapkan”. Hye Won membalas tak kalah tajam dan langsung keluar karena Donghae tak mampu membalas ucapannya.
Donghae sadar ia terkena karma yang ia buat sendiri. Yeoja itu ingat semua janjinya dan ia sudah mengikarinya. Pasti sekarang yeoja itu sangat sakit hati.
“AAARRGGGHHHHHH” Donghae memukul stir mobilnya sambil berteriak, ia juga mengacak rambutnya kesal. Setelah tenang Donghae langsung melajukan mobilnya ke rumahnya.
Sementara Hye won sepanjang perjalanan menuju kamarnya terus mengumpat kesal dan menahan air matanya.
>>>>>>>
Seminggu sudah Donghae sudah memikirkan semuanya. Akhirnya ia tetap pada keputusan menerima perjodohan itu. Yak hatinya tetap menginginkan Hye Won tak peduli siapapun dia di masa lalu, ia tetap menginginkan gadis itu. Walau itu berarti ia menelan ludahnya sendiri karena ia membentengi hatinya agar tidak dimasuki yeoja yang dianggapnya dongsaengnya itu. Namun tanpa ia sadari gadis itu sudah masuk terlalu jauh ke dalam hatinya dalam sosok lain sebagai Hye Won. Walau Hye Won dan Hyeon adalah orang yang sama. Ia akhirnya menyerah kalau ia tidak akan melepaskan gadis itu.
Namun sayang saat ia utarakan isi hatinya, eommanya memberi tahu kalau Hyeon menolak perjodohan itu. Eommanya dengan bijak menyuruh Donghae mampir ke rumah orangtua Hyeon yang Cuma berjarak beberapa meter dari rumahnya.
Donghae membicarakan maksud kedatangannya dan diterima dengan sangat baik oleh eomma Hyeon. Eomma Hyeon juga tidak habis pikir bagaimana bisa Hyeon menolak perjodohan itu karena setahunya putrinya itu sangat menyukai Donghae dari kecil. Hal itu membuat Donghae tersipu malu. Eomma Hyeon menyuruh Donghae ke apartemen Hyeon dan mengatakan kalau Hyeon saat ini sedang sakit dan karena eomma dan appa Hyeon sedang ada urusan maka mereka tidak sempat menjaga putri mereka. Eomma Hyeon juga meminta Donghae sekalian menjaga Hyeon yang sedang sakit dan membicarakan masalah antara mereka. Tak lupa Donghae menerima kunci cadangan apartemen Hye Won dari eomma Hye Won.
>>>>>>>
Donghae membuka pintu apartemen Hye won dan terkejut mendapati fotonya dan Hye Won menghiasi ruang tamu. Donghae membuka pintu kamar Hye Won dan mendapati gadis itu terbaring lemah menggigil kedinginan. Wajah hye Won pucat menandakan ia memang sedang sakit. Donghae lalu menyentuh kening Hye Won dan terkejut menyadari suhu badannya sangat panas.
Donghae mengompres Hye Won dengan air es. Setelah dirasa suhu nya sudah turun ia pun tertidur di samping Hye Won.
>>>>>>>
Hye Won menggeliat, sinar matahari memasuki jendela kamarnya. Matanya mengerjap membiasakan cahaya yang masuk. Alangkah terkejutnya saat ia bangun ia dapati sesosok wajah tampan berjarak 10 cm di depan wajahnya. Donghae tersenyum melihat Hye Won.
“kau sudah bangun? Cepat mandi dan kutunggu di luar. Aku sudah menyiapkan bubur untukmu setelah itu kau harus minum obat”. Hye Won yang masih bingung kenapa Donghae bisa masuk ke kamarnya. Tapi ia merasa sangat tidak nyaman dan bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Setelah rapi berpakaian, Hye won segera keluar kamar dan mendapati Donghae sedang memasak bubur di dapur.
“duduklah. Kau belum makan dari semalam”. Donghae menyodorkan semangkuk bubur yang langsung diterima oleh Hye Won. Hye won memakan bubur itu dengan lahap. Bubur buatan Donghae sangat lezat. Donghae tersenyum melihat Hye Won yang sedang makan dengan lahap. Lalu Donghae mengalihkan pandangannya kearah ruang tamu yang memajang banyak foto dirinya.
“kau masih mau menolak menikah denganku? Lihat saja ruang tamumu penuh dengan fotoku. Ckck….” Bangga Donghae narsis.
“uhukk…hukkk…” mendengar perkataan Donghae membuat Hye won terbatuk. Donghae langsung menyodorkan minuman kearah Hye won.
“pelan-pelan makannya” donghae kembali menatap Hye Won yang sedang makan.
Hye Won hanya terdiam merasa ditatap sendu oleh Donghae.
“apa tidak bisa kita mulai lagi dari awal?”
Hye Won menghentikan makannya dan menatap tajam Donghae. Tak terasa air matanya sudah mengalir deras di pipinya. Donghae tersentak dan segera menjulurkan tangannya dan menghapus air matanya Hye won.
“mianhe. Aku pasti sudah menyakitimu” kata-kata Donghae terdengar lirih di telinga Hye Won. Apakah ia akan luruh dengan semua permintaan maaf Donghae. Hye Won bangkit dan memukul-mukul dada bidang Donghae.
“kau sangat jahat!pembohong!”
Donghae ikut berdiri dan mengitari meja makan menghampiri Hye Won dan menariknya dalam pelukannya. Donghae membiarkan Hye won terus melancarkan pukulan-pukulan kecilnya.
“mianhe. Terus pukul aku saja jika itu membuatmu lega”.
Setelah Hye Won tenang dan tidak menangis lagi, Donghae melepaskan pelukannya dan memandangnya wajahnya teduh. Donghae merapikan rambut Hye Won dan membelai pipinya. Hye Won seperti terhipnotis dan hanya diam memandang Donghae.
“ so? Apa kau sudah memaafkanku? Kita sudah baikan?”
Karena Hye won hanya terdiam membisu, Donghae terus menatap Hye Won dan memperkecil jarak wajahnya. Donghae mengecup singkat bibir mungil Hye Won. Hye won hanya diam menerimanya. Donghae langsung memeluk Hye won kembali. ia anggap sikap diam Hye won sebagai jawaban kalau mereka sudah baikan.
“saranghe Hyeon~ah”
“nado saranghe oppa”. Hye won membalas ucapan Donghae dengan senyum terkembang diwajahnya. Begitu juga Donghae yang tersenyum senang karena gadis itu sudah mau menerimanya. Hye Won akhirnya luruh, sekeras apapun ia menolak, hatinya tetap masih terpatri akan seorang Lee donghae.
>>>>>>>
Hye Won menatap kota Seoul dari balkon kamarnya. Ia menikmati angin sejuk yang menerpa tubuhnya. Tiba-tiba sepasang tangan memeluk dirinya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Hye Won.
“kau tahu kan hari ini tanggal berapa?” tanya Donghae manja.
“ ne, oppa. Saengil chukae hamnida”.
“mana kadoku”. Tanya Donghae manja
“cih manja, sudah untung aku mau menerimamu”. Hye won pura-pura ketus.
“mana bisa kau menolak pesona seorang Lee Donghae, Hyeon~ah. Kau kan tergila-gila padaku dari kecil haha….” Donghae tersenyum menang. Hye Won hanya bisa mencibir kesal melihat kenarsisan donghae yang kumat.
“oppa, seandainya kita tidak pernah bertemu di RS dan aku menagih janjimu saat kecil dulu. Jawaban apa yang akan kau berikan padaku?”
“molla. Aku tidak pernah memikirkan itu. Aku berharap kau lupa hehe… mianhe”
Jahat kau. Tapi… gomawo oppa. Jika bukan karena kau mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini”.
“mmmm… kau tahu dulu aku sempat terlintas pikiran jika tidak ada dokter yang mau jadi isteriku. Kau bisa kujadikan cadangan terakhir”. Hye won kesal dan mau berbalik memukul Donghae tapi donghae mengeratkan pelukannya menahan tangan Hye won.
“kau jahat oppa”.
“hehe… mianhe. Tapi kau tetap mencintaiku kan? Lagipula saat ini kau adalah hal terpenting dalam hidupku”.
Keduanya tersenyum bahagia.
*flashback.
Seorang namja menjenguk istri sahabatnya yang habis melahirkan. Setelah itu namja itu menggendong putranya melihat bayi sahabatnya itu. Namja tersebut tersenyum melihat bayi mungil dari balik kaca. Namja tersebut membisikkan sesuatu di telinga anaknya sambil menunjuk kearah bayi tersebut.
“ Hae lihatlah bayi mungil itu, cantik kan?” putranya yang masih berumur 4 tahun tanpa mengerti apa-apa yang dibicarakan appanya hanya mengangguk melihat bayi disebrang kaca.
“lihatlah Hae, dia calon istrimu. Jaga dia baik-baik yah”.
-FIN-

NOTES:
>_< hwaaa…. Akhirnya kelar juga. Apakah feelnya dapet. Haha…. Tolong jangan gebukin saya. Ini FF sebagai hadiah untuk my prince of sea Lee Donghae yang kemarin tanggal 15 oktober ultah.
Saengil Chukae Hamnida oppa^_^ Wish U all The Best. Moga tambah ganteng dan tetap sehat. ^^

8 komentar:

iis RF mengatakan...

apakah ada yang membaca FF ini? kekeke~ sepertinya untuk beberapa waktu ke depan aku bakal sering posting FF ni. untuk utang sinopsis Hyunhaetan mian masih mengendap 2 bln di draft. ckck....
kalo suka ntar aku sering posting deh tapi coment yah ^^
masih mau ucapin lagi.... SAENGIL CHUKAE HAMNIDA HAE OPPA^^

syaoran mengatakan...

Ah tidak knp epep ikan.. jgn bilang epep aye tayangnya feb th dpn.. aye goreng trus bakar ntu ikan kl bener.. (makan ikan bakar ma ayang changmin lumayanlah)

syaoran mengatakan...

Ckck.. si ikan bnyk kutuny ya mbak.. garuk2 kpl trs.. jd kepikiran kl si ikan wamil kayak tante cule wajahnya gmn ya dgn rmbt cepak..

ai mengatakan...

waduh is, sekali baca gak mau berenti kalo belom abis... keren dah, ceritanya ringan tapi tetep bikin penasaran

btw, itu kenapa banyak banget kata2 'yah?'?

iis RF mengatakan...

@syaoran: kekeke~ kan aku pernah bilang aku lagi suka ama ikan. ffmu nunggu aku mabok changmin dulu yah. idenya buntu.... hehe. gomawo ^^ udah coment.

@teh ai: hihi... aku jadi malu ama un ai. hehe^^ mian banyak typo. aku juga gak tau kenapa kebanyakan kata "yah" keke~

Dewi Cendrillon mengatakan...

Un Iis keren banget.
benar apa yang dibilang un ai, g bisa berhenti membaca sampai ceritanya selesai....

un, ditunggu ff selanjutnya...

ecak ayih mutssss mengatakan...

kren critanya nie...
jodoh mang gak kmana...
(^_^)..

Citra Apsara mengatakan...

Waah.. keren critanya. Ditunggu karya selanjutny^^

Ada kesalahan di dalam gadget ini