Jumat, 31 Desember 2010

Sinopsis Hyunhaetan Marriage War episode 1 part 1


Seorang gadis sedang dirias memakai pakaian tradisional korea. Setelah pipinya di tempeli bola-bola merah si gadis dibantu dua gadis lain berjalan menuju tempat upacara pernikahan. Mempelai pria tampak senang melihat calonnya. Keduanya berpandangan sambil tersenyum. Para tamu juga ikut tersenyum bahagia melihat keduanya. Upacara pernikahan pun dimulai. Mempelai wanita berlutut memberi hormat. Lalu keduanya diberikan minuman arak pernikahan. Pengantin pria meminumnya tanpa ragu. Giliran pengantin wanita, ia pun hendak meminum araknya tapi terdengar suara dari luar yang memanggil-manggil namanya “Takako.. Takako”. Pengantin wanita mulai ragu. Pengantin pria bertanya “ada apa? Apa yang terjadi?”. Kakak Pengantin Pria juga menyuruh Takako segera menghabiskan minumannya. Eh Ayam dalam upacara itu juga mulai berontak… (klo di korea upacara pernikahan pake ayam jago yah?)




Ternyata di luar gerbang rumah, orang tua Takako bersitegang dengan ayah Dae Chun. Ayah Takako ingin masuk ke rumah untuk menggagalkan pernikahan putrinya. Ayah Dae Chun berusaha menghalangi jalan. Karena dihalangi, Ayah Takako mencengkeram kerah ayah Dae Chun dan bilang bagaimana mungkin putrinya menikah tanpa persetujuannya dan tanpa didampingi wali. Keduanya bersitegang dan Ibu Takako panic dan lekas berlari ke dalam rumah.
 


Di dalam Takako masih ragu untuk meminum araknya, semua orang mendorongnya dengan isyarat tangan agar segera minum. Lalu Takako melihat Ibunya masuk dan menyuruhnya segera minum juga. Takako tambah ragu.
Di luar gerbang, akhirnya ayah Takako menyerah dan melepaskan cengkeraman tangannya lalu berjalan pergi. Ayah Dae Chun bingung melihatnya dan bilang “apa kau akan pergi dengan cara seperti ini?”. Eh gak taunya ayah Takako berbalik dan memasang kuda-kuda membuat ayah Dae Chun kaget. Ayah Takako berlari kencang masuk ke dalam rumah. Ayah Dae Chun tak sempat menghalangi dan ikut mengejar.
Pas saat Takako mau minum, ayahnya datang membuat Takako terkejut dan berdiri. Takako menjatuhkan minumannya. Ayamnya juga ikut terbang.
Flashback.
Dae Chun tengah tertidur di kamarnya sambil ngoceh wkwkwk… lucu kayak lagi latihan mo ngungkapin cinta. Intinya dia mo bilang kalau dia sangat mencintai Takako dan tidak bisa hidup tanpa Takako. Lalu ia bilang “Takako menikahlah denganku “ sambil natap bantal di sebelahnya menganggap itu Takako. Lalu ia mencium bantal itu wkwkwk…. 
Eh lalu Takako masuk kamar Dae Chun dan melihat Dae Chun sedang mencium bantal. Takako tersenyum melihatnya dan ia langsung menghampiri Dae Chun dan menarik bantalnya. Dae Chun kaget dan buru-buru bangun sambil melap bibirnya dengan tangannya. Hehe….
Takako menyuruh Dae Chun segera bangun karena mereka harus segera pergi kalau tidak maka akan datang terlambat. Lalu Takako melihat bantal itu sambil bilang “sepertinya aku harus mencucinya lagi”.
Takako meninggalkan Dae Chun yang bengong melihatnya. Dae Chun lalu bangun dan turun dari tempat tidurnya. Ia melihat catatan risetnya lalu ia mengambil catatannya yang lain (kayak diary gitu) dan mulai menuliskan “ aku cinta… “ lalu kembali berpikir. 
Dae Chun berdiri dan berpikir ia tidak bisa melakukannya. Ia kemudian melemparkan catatannya ke tempat tidur. Dae Chun dengan semangat menggebu-gebu bilang “bagaimana jika dikatakan saja” lalu ia memperagakannya dengan gayanya sok cool “Takako mari kita menikah, saat ini tidak mungkin kita terpisahkan, kau mengerti?”. (liat gayanya hehe…) lalu Dae Chun tersenyum dan berpikir yah seperti ini.
 
Dae Chun melahap sarapannya yg di buat Takako. Takako ikut duduk dan bertanya “lezatkan?”. Dae Chun mengiyakannya “tapi akan rasanya akan lebih enak jika dimakan bersama sup kimchi”. Takako langsung merenggut “ aku tidak bisa membuatnya, kau buat sendiri saja”. Dae Chun langsung bilang “ bukan.. bukan begitu, kau salah”. Lalu Dae Chun punya ide . lalu Dae Chun nanya ke Takako apakah ia suka udon lalu diiyakan oleh Takako. Dae Chun ingin mengutarakan perasaannya lewat perumpamaan kalau Udon dan Kimchi adalah perpaduan yang sempurna, Tapi Takako bingung tidak mengerti malah bertanya kalau Dae Chun pasti sangat lapar karena membicarakan makanan ketika makan.
Dae Chun menggunakan perumpamaan lain “ jika masakan jepan dan korea kita campur (arti bahasa koreanya bisa juga menikah hehe…) maka akan mendapatkan rasa yang lezat. Takako mulai berpikir “ jika natto dicampur dengan cheongukjang akan terasa aneh karena tidak biasa dimakan dengan saus cabe”. Dae Chun keki mendengarnya, ia pun ingin menggunakan perumpamaan lain tapi Takako melihat jamnya dan berseru “oh kita akan terlambat!”. Dae Chun kesal dan langsung menggigit rotinya. 
Takako buru-buru mengambil tas dan jaketnya, lalu ia melihat buku agenda di atas tempat tidur dan membawanya. Takako bilang ke Dae Chun kalau ia akan berangkat duluan. Dae Chun hanya tersenyum. Tapi setelah Takako pergi wajah Dae Chun langsung berubah jadi kesal. Dae Chun berpikir apa Takako tidak bisa melihat isyaratnya atau ia memang berpikiran sederhana, hah memusingkan.
 
Di universitas. Kedua teman Dae Chun melihat Dae Chun yang mau membunuh seekor tikus. Dae Chun ketakutan memegang tikus itu. Takako melihatnya dan marah karena Dae Chun belum berhasil membunuh tikus itu sampai sekarang. Takako mengambil tikus lain dan menyuruh Dae Chun memperhatikan dengan baik. Takako memperagakan cara memegang dan membunuh tikus kecil itu. Saat proses Dae Chun melihat ngeri dn langsung menutup mata. 
Takako melihatnya dan memberinya isyarat agar jangan takut seperti itu. Dae Chun mengerti. Lalu Professor datang dan melihat Dae Chun dan bertanya apa Dae chun masih belum bisa membunuh tikus? Professor marah kalau bukan karena pembelaan Takako maka Dae Chun sudah dikeluarkan sejak lama dari Riset itu. Dae chun meminta maaf.
 Dae Chun dan Takako ke ruangan Profesor, professor mencari bahan riset di tumpukan mejanya. Professor bertanya pada Takako, “sudah berapa lama kau ikut dalam penelitian ini?” Takako menjawab kurang lebih 2 tahun. Lalu professor bertanya apakah analisis bahan warna Hyena sudah siap?. Takako menjawab “ iya, hasilnya sudah keluar”. Takako juga bilang tapi itu hanya dari tempat pengambilan yang aman, maka ia berencana untuk mengambil sampel darah dari populasi tempat tinggi di daerah Jepang dan Korea Selatan.
Lalu Profesor bertanya pada Dae Chun, bukankah Busan adalah kampung halamannya? Dae Chun menjawab iya. Professor “ mulai lakukan penelitian di sana.” Dae chun tersenyum senang tapi kemudian ia jadi sedih lagi. Lalu Profesor bertanya tentang jadwal dan Takako membuka agendanya.
Alangkah terkejutnya Takako melihat tulisan cinta Dae Chun untuk dirinya. Professor menyuruh Dae Chun mengingat dalam pikiran kalau sains itu nyata. Professor juga menyuruh Dae Chun belajar dari Takako. Dae Chun mengiyakan dengan malas dan mulai melihat Takako yang sedang asyik membaca agendanya dan ia terkejut melihat yang dibaca Takako adalah Diarynya bukan catatan Riset. Dae Chun menyesal lalu ia ingat ia melempar agendanya di atas tempat tidur. Takako terus membaca tulisan-tulisan Dae Chun hingga terharu. Sementara Dae Chun tidak tenang menunggu. Tapi yang paling kasihan Profesor ceramah panjang lebar tapi ia gak sadar kalau ucapannya gak ada yang denger karena Takako asyik membaca dan Dae Chun trus memperhatikan dengan perasaan was-was. 

Takako terharu dengan kata-kata tulisan itu, salah satunya kata-kata “ aku mencintaimu Takako, aku tak dapat hidup tanpamu Takako, menikahlah denganku.” Selesai membaca Takako terlihat terharu, Dae Chun langsung bilang semua kata-kata dalam tulisan ini ia tulis karena ia ingin anaknya nanti memiliki DNA yang sama dengan Takako. Professor masih aja ngoceh wkwkwk…. Dae Chun tersenyum lalu ia memeluk Takako.

 
Dikamarnya Dae Chun terbangun lalu ia melihat Takako yang tertidur di sampingnya. Dae Chun mencium kening Takako dan berniat bangun. Tapi ia terkejut karena mendapati dirinya ada di pelabuhan. Lalu ia melihat ayahnya mengendarai traktor sambil marah karena Dae Chun berani menikahi gadis Jepang. Dae Chun berusaha membujuk ayahnya karena ia satu-satunya anak laki-laki di keluarga ayahnya tapi ayahnya tetap marah dan berniat membuang tempat tidurnya ke laut. Dae Chun panic dan berusaha membangunkan Takako.
 

Giliran Takako terbangun dan tersenyum melihat Dae Chun yang masih tertidur. Lalu ia mendengar suara music Jepang dan ia bangun. Alangkah terkejutnya Takako mendapati ayahnya sudah berdiri disamping tempat tidurnya. Ayahnya marah dan bertanya apa Takako akan menikahi pria korea. Takako menjawab ia mencintainya dan ingin hidup bersama tak peduli akan apapun. Ayahnya tambah marah dan menyuruh anak buahnya keluar dan mulai mengangkat tempat tidurnya. Takako teriak……
Ternyata itu semua mimpi hehehe… Takako dan Dae Chun sama-sama terjatuh dari tempat tidurnya. Dae Chun terbangun dan melihat Takako juga jatuh di seberang tempat tidur. Keduanya saling melihat lalu bangun dan kembali duduk di kasur.
 

Dae Chun terlihat tak bersemangat “Takako sepertinya pernikahan kita tidak akan mudah”. Takako menoleh lalu menjawab “sepertinya begitu”. Lalu Takako tersenyum dan bilang ke Dae Chun asal Dae Chun tidak berubah ia akan melewati jalan sulit itu. Dae Chun men dan memeluk Takako. Dae Chun bilang selama Takako tetap mencintainya ia tidak akan merasa takut.
Ditempat lain, ayah Dae Chun sedang berdiri di pinggir dermaga memandang kapalnya dengan sedih. Lalu tetangganya bertanya kenapa tidak menjual saja kapal itu jika tidak bisa dipakai berlayar, sampai kapan ia akan menjaga kapal itu? Ayah Dae Chun dengan sedih menjawab kalau isterinya sangat menyukai kapal ini. Si tetangga mendekat dan bilang kalau kematian isteri ayahnya Dae Chun tidak mengurungkan niat ayah Dae Chun untuk membeli kapal itu padahal kapal itu sudah rusak bahkan seperti barang rongsokan yang bila dihancurkan potongannya tidak bernilai.



Ayah Dae Chun “sudah cukup hentikan! Aku hidup dengan baik selama ini”. Tetangganya ikut kesal karena ayah Dae Chun gak bisa dinasehati “terserah kau saja, keras kepala”. Lalu si tetangga pergi meninggalkan ayah Dae Chun yang masih menatap kapalnya. Ponselnya berdering lalu ayahnya Dae Chun menjawabnya ternyata dari Dae Chun.

Dae Chun dan Takako memberi hormat pada ayah Dae Chun. Ayah Dae Chun terlihat senang lalu menyuruh mereka segera duduk. Ayahnya tanya kenapa wajah Dae Chun keliatan muram apakah Dae Chun sedang ada masalah? Dae Chun langsung menyangkal “bukan seperti itu”. (wkwk…. Kayaknya Dae Chun takut ayahnya gak merestui hubungannya ^_^)
Mendengar hal itu Takako hanya tersenyum. Ayah Dae Chun juga ikut tersenyum liat tingkah anaknya. ayahnya kuatir “ku dengar pekerjaan sebagai peneliti sangatlah susah, jika kau tetap ingin begitu kau harus berhati-hati. Jangan bekerja mementingkan dirimu sendiri tapi merugikan orang lain walau kau akan mendapatkan makan dari situ”. Takako tersenyum mendengarnya membuat Dae Chun malu dan bilang “ayah berhentilah bicara macam-macam, aku sudah cukup tahu dan jelas”. (wkwkwk… ternyata ayahnya aja gak percaya dia jadi peneliti….).


ayahnya diam saja lalu ia melihat Takako yang dari tadi tersenyum dan mulai bertanya “ Dae Chun kami memiliki senior universitas di sini…” Dae Chun langsung menyela menutupi wajah Takako. Dae Chun “bukan senior akan membantu penelitian ini”. Lalu ayahnya kembali bertanya “nona apakah kau punya pacar?” lagi-lagi Dae Chun menyela tak member kesempatan Takako menjawab. Dae Chun “ayah lupakan itu. Ada hal yang ingin kukatakan”. Lalu Dae Chun ingat sesuatu untuk mengalihkan “kami butuh sampel darahmu”. Ayahnya kaget “darah?” Dae Chun mengangguk.
Takako mengambil darah ayah Dae Chun. Ayah dae Chun tak henti-hentinya tersenyum melihat Takako. Setelah selesai Takako memberikan sampel darah itu kepada Dae Chun dan ditaruh di dalam kotak penyimpanan. Takako kembali ke tempatnya. Ayahnya Dae Chun bertanya kepada Takako sampel darahnya itu akan digunakan untuk apa? Takako bingung menjawabnya dan menoleh kearah Dae Chun. Dae chun menjawab kalau itu untuk keperluan penelitian jadi dia tidak bisa menjelaskannya kepada ayahnya. Ayahnya marah karena ia tidak bertanya pada anaknya tapi pada seniornya. Dae Chun lalu memberi isyarat tangan agar Takako segera pergi. Takako mengikuti saran Dae Chun dan mulai berdiri tak lupa memberi salam dulu dan beranjak pergi.
 

Ayahnya tanya apa yang dilakukan seniornya? Dae Chun menjawab kalau seniornya sedang sibuk. Dae Chun terus menyuruh Takako pergi sambil melambai-lambaikan tangannya. Ayahnya melihat Dae Chun melambaikan tangan dan kesal, ia memukul kepala Dae Chun dengan buku karena bandel gak sopan (wkwkwk… sakit yah oppa sini aku elus-elus kepalanya… hehehe..)
Dae Chun hanya memegang kepalanya sambil menahan sakit. Ayahnya tanya apa yang dilakukan seorang gadis di tempat seperti ini, walaupun Dae Chun ingin menjadi peneliti kapan ia akan menikah karena keluarganya sudah sangat mengharapkan seorang cucu. Jadi pertama-tama Dae Chun harus menikah dulu, tapi setelah melihat Dae Chun sepertinya ayahnya sudah tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan.
Dae Chun hanya diam dimarahi ayahnya. Ayahnya bilang “kapan aku akan mendengar ocehan pintar seorang cucu?kau ini satu-satunya anak laki-laki dan cucu laki-laki tertua. Kenapa kau juga tidak mewujudkannya. Hal yang sangat didampakan keluarga kita. Aku benci terus didesak”.
Dae Chun merasa bersalah “ayah, tentang hal itu ada sesuatu masalah yang akan aku katakan”. Ayahnya dengan jutek bilang “masalah apa?” Dae Chun” masalah pernikahan”. Ayahnya kaget “apa?”

Takako dan Dae Chun bertemu ayahnya Dae Chun di sebuah restoran untuk acara perkenalan. Ayahnya Dae Chun terus tersenyum melihat keduanya. Ayahnya “dasar anak nakal, kau seharusnya memberitahu dari awal kenapa menyembunyikan hubungan ini”. Dae Chun “ ayah itu karena kami harus mengikuti protocol”. Ayah Dae Chun “protocol?baiklah. Cara modern tak masalah selama cara itu baik. Menikah tanpa persetujuan orangtua?” dae Chun mengangguk, ayahnya “mengikuti protocol perkenalan resmi sebagai pertemuan pertama, itu bagus”ayah Dae Chun tertawa lalu bertanya pada Takako “nona kalau dilihat dari pembawaanmu sepertinya orangtuamu mengasuhmu dengan sangat baik”. Takako tersenyum mendengarnya. Ayah Dae Chun “ngomong-ngomong siapa namamu?” Dae Chun langsung menyela “Do Ja, yah namanya Choi Do Ja”. Ayah Dae Chun “Choi Do Ja… Choi Do Ja nama yang bagus membawa keberuntungan. Apa nama margamu?” Dae Chun kembali menyela “tentu saja Choi dari Provinsi Kyung Jo”.
Ayahnya mulai kesal karena Dae Chun terus menyela pembicaraan dan menyuruhnya untuk duduk saja. Ayahnya kembali bertanya apa pekerjaan orang tua Takako. Dae Chun melihat Takako dengan cemas.lalu Dae Chun bilang ke ayahnya kalau ayahnya membuat pacarnya tertekan dan meminta untuk minum dulu dan bertanya pelan-pelan. Ketiganya mulai minum dan Dae Chun meminum minuman dengan perasaan cemas ampe kehausan gitu hehe…
Setelah minum Dae Chun membantu Takako menjawab. Dae Chun bilang “ayahnya bekerja di bagian pengiriman, ibunya adalah ibu rumah tangga. Usianya 26 tahun, dia anak tunggal. Pekerjaannya sama sepertiku peneliti biologi di Universitas…”ayahnya kesal mendengar ocehan Dae Chun dan mau memukulnya “anak bandel kau mau dipukul? Hentikan!” siapa kau?pengacara pembela?hah? apa fungsi mulutnya?” Sambil melihat Takako” apa hanya untuk minum jus jeruk?”. Dae Chun mulai melunak dan mengingatkan ayahnya Karena suaranya terlalu keras. Ayahnya langsung tersenyum sambil dan mengiyakan kalau ia terlalu keras dan meminta Dae Chun untuk diam.
Dae Chun diam menurut takut kena semprot lagi. Ayahnya kembali bertanya apa pekerjaan ayah Takako?. Dae chun kembali menyela kalau hal itu sudah ia jawab. Ayahnya kesal dan mengatainya bandel. Dae Chun langsung terdiam. Ayahnya bertanya pada Takako “tentang anak bandel ini apa yang membuatmu menyukainya?” Dae Chun kaget dan memandang Takako dengan cemas. Takako mengingat pelajarannya dengan Dae Chun.

Flash Back. Dae Chun melatih aksen bicara Takako. Tapi karena aksen jepang Takako masih terdengar membuat Dae Chun pusing. Takako kesal Karen atidak mudah mengubah gaya bicaranya. Dae Chun langsung berpikir ia akan mengajarkan dialog pendek dalam aksennya jadi Takako harus mengingatnya.
Kembali ke Takako. Takako menjawab pertanyaan ayah Dae Chun dengan jawaban singkat “aku tidak tahu”. Ayah Dae Chun tertawa dan berkata “tentu saja”, Dae Chun bernafas lega. Ayah Dae Chun tersenyum sambil memandang Takako dan bilang kalau terlalu kasar baginya bertanya secara langsung, sudah langsung melangkah ke tahap pernikahan. Ayah Dae Chun juga menambahkan kalau ia percaya kalau Takako adalah jodoh Dae Chun. Takako tersenyu senang mendengarnya, Dae Chun lega. Lalu ayah Dae Chun bertanya “orang tuamu tahu tentang ini?” Dae Chun memberi isyarat ketukan tangan di pahanya Takako. Takako mengerti dan menjawab “mereka tahu” sambil tersenyum. Dae Chun lega. Ayahnya lalu menyarankan agar kedua keluarga segera bertemu untuk membicarakan pernikahan untuk memperkirakan tanggal pernikahan yang bagus. Dae Chun menoleh ke Takako dan memberi isyarat lagi. Takako menjawab “tentu saja”. Dae Chun ikut tersenyum lega. Sementara ayahnya juga senang dan bilang kalau semua tentang Takako sesuai dengan kriterianya, anak-anak sekarang berbicara serius dan berprilaku baik. Ayahnya juga bilang kalau Takako mulai sekarang adalah calon menantunya. Takako tersenyum senang dan menjawab iya. Dae Chun terlihat gelisah lalu ia bilang ke ayahnya “ayah ayo kita pergi ke toilet”. Ayahnya menolak kalau Dae Chun mau ke toilet pergi sendiri saja karena ayah Dae Chun sudah ke toilet sebelum datang kesini. Dae Chun akhirnya pergi ke toilet sendiri meninggalkan Takako yang kebingungan takut ditanya macam-macam.

 

Dae Chun pergi ke toilet dengan kesal. Di toilet Ia marah-marah dan bilang kenapa disaat penting bengini malah ingin pipis. Lalu ia menyuruh pipisnya cepat keluar (wkwkwk… aneh…) sampai 2 orang yang ada di sebelahnya memandang dengan aneh dan segera keluar. Dae Chun melihatnya masa bodoh dan segera menyelesaikan pipisnya agar cepat keluar dari toilet.

Di meja makan, Takako terus gelisah melihat kearah Dae Chun pergi. (hehe.. pasti Takako bingung mo jawab apa kalau ditanya ayah Dae Chun). Ayah dae Chun bilang “ aku yakin kau pasti sudah tahu, tapi Dae Chun kami adalah generasi ketiga dari keluarga. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya penerus keluarga. Aku Cuma mau tanya berapa rencananya kau ingin punya anak?” Takako makin panic mendengar pertanyaan ayah Dae Chun. Ayah Dae Chun sambil menghitung dengan jari bilang “ satu? Dua? Atau 3? 4 juga baik. Ah 5 lebih baik”. (wkwk… ni ayah udah ngebet pengen punya cucu hehe…). Takako masih bingung menjawabnya lalu terdengar suara panggilan dari belakang “ayah… ayah…”. Ayah Dae Chun menoleh ke belakang dan terlihat tidak senang dan bilang “apa yang kalian lakukan”..
Dae Chun sudah selesai pipis dan segera keluar dari toilet. Sementara itu Takako sedang dikerubuti kakak-kakak Dae Chun. Mereka berebutan memegang tangannya dan bertanya mengapa Takako terlihat sangat cantik dan kulitnya halus, bagaimana bisa bertemu dengan Dae Chun dan menjadi kekasihnya. Takako hanya pasrah dipegang tangannya dan ia terlihat bingung dengan keadaan itu. Dae Chun yang baru keluar dari toilet kaget melihat ketiga kakaknya sudah memngerubungi Takako. Dae Chun mulai duduk di kursinya dan bertanya apa yang dilakukan kakaknya di sini. 
Kakaknya marah kenapa mereka tidak diikutsertakan dalam pertemuan ini. Kakaknya juga bilang kalau Dae Chun yang malang kehilangan ibunya sejak ia dilahirkan. Tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dae Chun merasa tak enak hati dan menyuruh kakaknya berhenti bercerita sedih. Ayahnya mulai kesal dan menyuruh ketiga putrinya untuk segera pergi. Ketiganya menolak dan bertanya kenapa ayah dan Dae Chun berusaha menyembunyikan hal ini dari mereka. Lalu ketiganya ingin membawa Takako pulang ke rumah mereka. Ayah Dae Chun bilang “ kalian membuat gadis ini tertekan dan stress, biarkan dia makan dulu. Jangan kalian bawa dia kemana-mana”. Lalu ayah menyuruh Dae Chun segera membawa Takako pergi. Dae Chun tak menyia-nyiakan hal itu ia segera menarik Takako dari ketiga kakaknya dan membawanya pergi. Sementara ketiga kakaknya protes ingin membawa Takako…. (ckckck…. Keluarga heboh…)
Di hotel Takako memasukkan sampel darah ke kotak penyimpanan. Takako terlihat sedih, sementara Dae Chun yang duduk di kursi juga merasa tak enak hati. dae Chun lalu menghampiri Takako dan bertanya kenapa wajah Takako terlihat murung sekarang apa karena ayahnya?. Takako menjawab kalau ia ingin istirahat lebih awal mala mini. Dae Chun “ Takako, segalanya akan berjalan mulus”. Takako tersenyum “ benar akan mulus, ayahmu dan saudarimu mereka orang yang sangat menyenangkan. Dae Chun bilang mereka terlihat seperti itu tapi sebenarnya mereka baik. Takako terlihat sedih dan bilang kalau ia seperti punya segudang air mata yang ingin ditumpahkan. Dae Chun bingung “air mata?”. Takako mengiyakan karena saat pertemuan pertama mereka sudah memberinya uluran tangan dan kehangatan dan Takako sudah merasa menjadi bagian dari keluarga mereka. Dae Chun sedih tapi berusaha tersenyum “ kebanyakan orang Korean seperti itu, yah sudah selamat malam”. Dae Chun mengambil jasnya dan berjalan keluar meninggalkan Takako yang masih berpikir.
Takako berjalan ke tempat tidurnya dan duduk sambil merenung. Ia teringat perkataan ayahnya Dae Chun yang bilang nama Choi Do ja sangat bagus membawa keberuntungan. Ia juga ingat saat ayah dae Chun bilang kalau sekarang ia adalah menantunya. Ia juga teringat saat kakaknya Dae Chun mengerubunginya dan bertanya. Takako “ tapi kenapa aku merasa begitu bersalah pada mereka”. Lalu bel berbunyi dan Takako segera membuka pintunya.
Ternyata Dae Chun yang datang lagi. Dae Chun tersenyum “ aku sudah memikirkan semuanya. Karena takut ayahku tidak menyetujui pilihanku aku tidak melakukan hal yang benar dan membuatmu menjadi orang lain. Aku merasa bersalah dan buruk telah membuatmu masuk dalam keadaan itu”. Takako tersenyum tersentuh dengan perkataan Dae Chun.
Dae Chun “ aku Kim Dae Chun bagaimana mungkin bisa duduk dengan tenang setelah semua ini”. Takako tersenyum “ Dae Chun adalah orang yang akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Seorang pria yang sangat baik dan penyayang. Benar, aku bukan Choi Do Ja tapi aku adalah Suzuki Takako. Mari katakan kebenarannya. Walau mereka membenci orang Jepang tapi kita tidak bisa menipu mereka lagi”. Dae Chun tersenyum dan mengaku bersalah pada Takako. Takako mengangguk tersenyum memaafkan. Dae Chun dengan mantap berkata“ dengan harga diri kita akan menunggu persetujuan orang tua kita. Mari kita menikah”. Takako tersenyum mengangguk kepala.
Dae Chun berjalan keluar dan ia berhenti menghela nafas panjang dan menundukkan kepala. Ia bersender ke dinding dan merosot ke lantai. Dae Chun bimbang “ kata-kata bahagia tidak semudah yang dikatakan”.
Di rumahnya. Ayah Dae Chun melihat foto keluarganya dengan gembira. Dae Chun melihat ayahnya dan ikut duduk di sampingnya. Ayahnya menutup pigura itu dan bilang kalau setelah kematian ibu Dae Chun, ia tidak pernah merasa bahagia seperti ini. Dae Chun bertanya apa ayah benar-benar bahagia? Ayahnya menjawab “tentu saja, ada tiga kebahagian dalam hidupku. Pertama ketika membeli kapal laut untuk mencari ikan, kedua kelahiran ketiga putriku dan mendengar aku akan mendapat anak laki-laki setelah ketiga putriku lahir yaitu saat kau lahir ke dunia ini. Dan hari ini”. 
Ayahnya tersenyum bahagia membuat Dae Chun tertunduk. Dae Chun “ayah, aku benar-benar minta maaf”. Ayahnya terharu dan membelai rambut Dae Chun “kau minta maaf untuk apa?tidak ada lagi yang perlu dimaafkan, kau sudah melakukannya dengan baik”. 
Lalu ayahnya menangis sedih dae Chun ingin mengatakan sesuatu. Dae Chun “ayah kau menangis?”. Ayah Dae Chun berusaha mengusap air matanya dan bilang mungkin karena ia merasa sangat lelah, jadi ia hanya perlu merenggangkan kaki dan pergi tidur. Ayahnya lalu mulai berbaring di tempat tidur. Dae Chun pun ikut berbaring di sebelah ayahnya. Dae Chun mulai memjamkan mata lalu ia teringat kata-kata Takako “mari kita katakana kebenarannya”> dae Chun mengumpulkan keberaniannya dan mulai berlutut di sebelah ayahnya. Dae Chun “ayah ada sesuatu hal yang ingin kuakui, ayah…” ternyata ayahnya sudah tertidur. Dae chun mengurungkan niatnya dan menyelimuti ayahnya.
Dae Chun menelpon Takako. Dae Chun bertanya apa Takako sudah mempersiapkan hatinya dengan semua hal yang mungkin terjadi. Takako tersenyum “tentu saja, aku malah sudah mulai mencari hadiah untuk ayah. Apa yang kau khawatirkan?”.
“ tidak ada. Tapi mempersiapkan hati jauh lebih penting dari pada hadiah”. Kata Dae Chun sambil mukul dadanya dengan wajah sedih.
“mungkin kau belum mengatakan pada ayah sampai sekarang. Mengapa kau tidak menepati perkataanmu? Kau bilang akan mengatakan semuanya”. Kata Takako sedih.
Dae Chun tersinggung “ Takako aku akan melakukan hal itu. Namun waktunya tidak tepat. Saa aku mulai mengatakannya ayah sudah tertidur”. Takako “ alasan”. Dae Chun “ Takako jika kau mau menikah dengan orang Korea apa kau akan mudah mengatakannya pada orangtuamu?”
Takako menjawab “ aku Takako akan melakukannya”. Dae Chun sebal “ iya aku mengerti aku akan mengtakan semuanya besok”. Takako “ lakukan semuanya dengan cepat dan tegas. Katakana semuanya besok”. Dae Chun “ ini tidak seperti membunuh seekor tikus. aku mengerti, Aku akan melakukannya”. (wkwk… liat tampang Dae Chun yang bête abis…). Takako “ baiklah selamat malam” Takako menutup teleponnya.
Takako mengambil dompetnya dan membukanya. Ia memandangi foto keluarganya.
Jepang. Ayah Takako sedang berlatih pedang di halaman rumahnya. Setelah selesai ia mengelap pedangnya dengan kain. Karena tidak hati-hati ada darah yang muncrat dari pedangnya. (kayaknya kegores dikit). Isterinya sangat terkejut melihat darah itu karena hal itu belum terjadi sebelumnya. Suaminya membenarkan mungkin karena ia tidak mendapat telepon dari Takako dan semalam ia mendapat mimpi buruk. Isterinya menuangkan the dan bilang kalau Takako sudah berada di Korea selama 2 tahun jadi apa yang harus dikhawatirkan bagi Takako. Suaminya membenarkan pasti Takako beik-baik saja.
Kembali ke Korea di rumah keluarga Dae Chun. Takako dan Dae Chun menghadiri acara makan di rumah Dae Chun. Ayah menyodorkan soju ke Dae Chun. Awalnya Dae Chun menolak tapi ayahnya bilang kalau seorang ayah memberikan minum ke anaknya maka anaknya harus menerimanya. Dae Chun pun menerima dan meminumnya. Takako terus melihat tajam ke Dae Chun. Dae Chun melihat Takako dan ingin memberitahu ayahnya. Dae Chun memanggil ayahnya dengan keras. Ayahnya kesal dan menyuruh Dae Chun segera mengatakan yang mau dikatakan jangan berteriak karena ayahnya tidak tuli. (wkwkwk…..)
Dae Chun “ ayah… apa kau menaruh soju di penyulingan bir? Karena rasanya enak “. Takako kesal karena Dae Chun malah ngomong begitu bwahahhaha… Ayah Dae Chun menawari Takako Soju. Tapi Takako tidak menjawab tapi malah terus melihat Dae Chun dengan kesal dan memberinya isyarat dengan matanya. Ayah Dae Chun tanya apa Takako tidak minum soju? Dae Chun yang terus dilihat dengan tatapan tajam dari Takako akhirnya mengumpulkan keberaniannya dan berdiri.
Dae Chun berteriak “ ayah”. Ayahnya bingung kenapa Dae Chun bertingkah aneh dari tadi. Ketiga kakaknya yang membawa makanan juga bingung.
Dae Chun meneruskan “ gadis ini bukan Choi Do Ja” tangan Dae Chun menunjuk wajah Takako.
Takako lalu ikut berlutut “ aku minta maaf , aku bukan Choi Do Ja. Kami sangat menyesal”. Ayah dae Chun kaget dan bertanya apa Dae Chun sedang memainkan lelucon dengan ayahnya?
Dae Chun meneruskan “ aku melakukan kesalahan yang pantas mati. Gadis yang dicintai anakmu Dae Chun bukanlah Choi Do Ja tetapi Suzuki Takako seorang gadis Jepang”. Ayah Dae Chun kaget sampai menjatuhkan botol Soju. Ketiga kakaknya juga ikut kaget.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah ayah Dae Chun akan merestui? Bagaimana dengan orangtua Takako akankah menyetujui? Apakah perjalanan Takako dan Dae Chun mulus ke jenjang pernikahan?
Mianhe aku bagi 2 yah ep 1 nya hehehe… ^_^

4 komentar:

iis RF mengatakan...

hwaaa.... akhirnya kelar juga ^_^
film yang lumayan lucu....
kalau ada yang suka filmnya silakan koment yah.
gak suka juga gak apa-apa hehe... soalnya ni film juga gak populer cuma karena ada im ju hwan nya aja aku mo nonton wkwkwk....

Tri mengatakan...

salam kenal kak.
aku suka kak bagus critanya, di you tube ada gak ya?

aYYooN RF mengatakan...

Ini film apa drama sih Mb? genrenya komrom ya? ko kayaknya emang bakal bikin ngakak gegulingan. Ju Hwan imuutt juga, tapi tenang... Aya tetep setia ama Yoon dan Bang Ijun ko ^__^
Btw, pikunya ko ga rata Mb Iis? cie ciee... cuit cuittt.. udah ditrademark juga tuh piku :) emang lebih amannya dikasih gitu Mb :)

iis RF mengatakan...

@tri : aku gak tau di yotube ada atau gak. klo di dramacrazy ada oz aku nontonnya di situ.

@ayya: hehe... ini drama akhir pekan tayang sabtu minggu jd cuma 2 ep hehe.... iya genrenya komedi romantis... lucu filmnya. iya jgn coba2 ngelirik ju hwan hehe... pikunya yg rata kiri itu pas diposting dua jejer kesamping eh ternyata setingannya beda hehe... ntr diedit lg deh. ^_^

Ada kesalahan di dalam gadget ini